|
Negara Indonesia adalah suatu negara besar kalau dilihat dari segi
jumlah penduduknya. Catatan sejarah telah menunjukkan bahwa karena
kekayaan alamnya yang besar telah menarik keinginan banyak bangsa asing
untuk menguasai negara ini.
Setelah 350 tahun di bawah penjajahan Belanda, 52 tahun yang lalu
negara ini secara resmi memproklamirkan kemerdekaannya. Hakiki dari
kemerdekaan itu sendiri bagi rakyat Indonesia adalah suatu kemerdekaan
akan kebebasan dari kemiskinan, dan belenggu kebodohan dan kekuasaan
yang secara tersirat termuat dalam pembukaan UUD 1945. Pada dasarnya hal
ini telah menunjukkan esensi bangsa Indonesia akan pentingnya realisasi
prinsip-prinsip demokrasi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan
bernegara. Sehingga secara tegas dinyatakan bahwa negara Indonesia
adalah negara Republik dan demokrasi; yang mengandung arti bahwa
kekuasaan pemerintahan adalah oleh, dari dan untuk rakyat.
Berdasarkan pertimbangan di atas, akanlah tepat jika pemimpin negara
RI adalah pemimpin yang benar-benar representatif akan keinginan rakyat.
Dia harus muncul dari rakyat, bukan hasil suatu rekayasa kekuasaan
apapun, dan dia harus benar-benar dikehendaki oleh rakyat.
Masalahnya sekarang dari sekian figur-figur publik yang sering muncul
dalam masalah presiden RI, figur manakah yang paling tepat untuk itu?
Presiden Suharto secara analisis politik tidak akan mampu lagi
memimpin negara ini dan hal ini akan menjadi bahan pertimbangan bagi
dirinya untuk tidak mencalonkan dirinya menjadi Presiden lagi di sidang
MPR tahun depan. Sekarang ini beliau kelihatan capai dan tua dan
nampaknya tidak memiliki keinginan untuk mengendalikan Indonesia selama
lima tahun lagi. Hal tersebut merupakan hambatan internal yang
kemungkinan besar dia hadapi seandainya dia ingin mencalonkan lagi,
disamping begitu banyak hambatan eksternal.
Mungkin juga ada perasaan dalam masyarakat bahwa beliau sudah cukup
lama memimpin Indonesia, dan kekuasaannya sudah mulai merosot akibat
dari banyak musibah yang melanda Indonesia baru-baru ini, misalnya
skandal Busang, pemilu yang kurang memuaskan, gejolak nilai Rupiah,
kekacauan sektor perbankan, kebakaran hutan, kekeringan, kelaparan Irja,
dan lain-lain.
Secara logis Presiden Suharto seharusnya tidak disalahkan untuk
musibah-musibah "alami" yang melanda Indonesia tahun ini, seperti
kekeringan dan akibat sampingannya. Walaupun demikian, politik tidak
selalu logis, atau lebih jelas lagi, orang-orang tidak selalu logis,
khususnya orang-orang yang kurang berpendidikan dan masih hidup secara
tradisional seperti yang tinggal di daerah perdesaan pulau Jawa.
Orang-orang seperti ini cenderung untuk menganggap bahwa pemimpinnya
harus selalu bertanggung jawab untuk semua yang terjadi terhadap mereka.
Di masa lampau, ketika Gunung Merapi meletus, yang harus disalahkan
adalah penguasa daerah itu. Kalau peletusannya cukup parah, peristiwa
ini bisa menjadi tanda atau gejala bahwa penguasa tidak lagi mempunyai
kekuatan cukup untuk menguasai lagi daerah itu.
Jadi, bagaimana calon-calon pengganti Presiden Suharto? Sayangnya,
rupanya tidak ada begitu banyak pemimpin-pemimpin nasional yang mampu
menangkap kepercayaan masyarakat Indonesia. Gap (jaraknya)
kekuasaan antara Suharto dan pemimpin-pemimpin nasional lain di
Indonesia terlalu besar, dan waktunya untuk mengembangkan atau
menanamkan para figur pemimpin nasional baru yang memiliki kredibilitas
itu sekarang sempit sekali.
Oleh karena itu, hanya ada beberapa kemungkinan untuk pengganti
Presiden, yaitu Hartono, Sutrisno, Harmoko, dan Habibie. Semua orang
tersebut adalah figur-figur Golkar, lebih lanjut Hartono dan Sutrisno
adalah perwira ABRI.
Pada saat ini Menteri Penerangan Hartono merupakan figur Golkar yang
paling mungkin akan diangkat oleh MPR untuk menjadi Presiden baru.
Persoalanannya untuk dia adalah bahwa dia tidak banyak berpengalaman
dalam dunia politik terbuka, dan mungkin terlalu banyak mewakili
aspirasi-aspirasi ABRI. Kemunculannya akan banyak mendapatkan tekanan
dari kaum sipil baik sipil bernotabene pegawai negeri atau non pegawai
negeri. Dia tidak akan lebih dari seorang figur pembawa aspirasi
sekelompok kecil masyarakat Indonesia ABRI yang kalau dihitung secara
presentase tidak lebih dari satu persen jumlah penduduk Indonesia.
Wakil Presiden Tri Sutrisno mungkin sudah terlalu lama diasosiasikan
dengan Presiden Suharto, dan untuk alasan itu sendiri dia tidak bisa
dianggap sebagai calon yang serius. Dalam beberapa hal dia mempunyai
suatu kelebihan yaitu, dia adalah seorang figur ABRI yang belum pernah
melakukan manifestasi politik yang memojokkan kaum sipil. Persoalannnya
terletak pada kekurangjelasannya garis politik yang dia ambil, hal ini
disebabkan oleh kenetralan yang berlebihan sehingga mengesankan bahwa
dia seorang figur yang tidak mempunyai prinsip.
Mantan Menteri Penerangan, Harmoko, harus dianggap sebagai calon
Presiden yang serius, walaupun dia dipersampingkan oleh Presiden Suharto
yang "melantik" dia menjadi Ketua MPR. Dalam posisi tersebut sangat
sulit untuk diangkat menjadi Presiden.
Menristek BJ Habibie, sudah lama dianggap sebagai calon pengganti
serius oleh banyak pengamat politik, tidak lagi menarik perhatian begitu
walaupun beberapa tahun yang lalu dia pasti ada suatu dukungan dari
Presiden Suharto. Jelas bahwa Habibie mempunyai terlalu banyak
persoalan; dia bukan orang Jawa, dia tidak memprojeksikan image
kepresidenan, dia terlalu terikat dengan agama Islam melalui ICMI, dan
dia adalah figur sipil, bukan dari ABRI.
Jadi, kesimpulannya bisa diambil bahwa tidak ada di Indonesia calon
pengganti presiden yang memuaskan. Semua calon-calon tersebut memiliki
cacat-cacat politik yang mungkin tidak bisa diatasi dengan mudah. Jadi,
bagaimana? Sebetulnya, ada satu lagi pemimpin nasional yang belum
disebutkan dalam uraian ini, yaitu Megawati Sukarno Putri.
Rupanya hanya Megawati sendiri yang mempunyai suatu sifat yang
mungkin semakin penting untuk masyarakat Indonesia baru-baru ini;
kredibilitas. Secara histori kasus 27 Juli 1996 ada suatu makna penting
yang perlu disimak dalam percaturan politik Indonesia, disatu sisi
peristiwa itu berarti titik mula merosotnya pamor seorang figur Suharto,
dan juga sebagai titik mula menaiknya pamor Megawati. Sejak saat itu
pula Indonesia mencatat, akan keberhasilan dia untuk menghadapi ujian
berat dalam menghadapi serangan gencar dari musuh-musuh politiknya.
Kehancuran suara PDI menunjukkan betapa besar eksistensi dia dalam dunia
politik baik didalam tubuh PDI khususnya, maupun dalam Indoneisa secara
keseluruhan. Tetapi, bagaimana kemungkinannya untuk tokoh ini menjadi
presiden Indonesia tahun depan? Memang, harus diakui bahwa kemungkinan
seperti ini belum banyak memasuki pikiran politik Indonesia sampai
sekarang, dan kalau betul-betul terjadi, akan merupakan suatu peristiwa
yang sungguh sangat luar biasa. Tapi, bukan untuk pertama kalinya bahwa
sesuatu luar biasa terjadi di dunia politik Indonesia selama waktu
penggantian kepala negara.
|